Skinny Fat Setelah Melahirkan: Berat Badan Sudah Turun, Tapi Bentuk Tubuh Belum Kembali?
- SAÉ Team

- 15 Des 2025
- 5 menit membaca

Artikel telah ditinjau oleh :
dr. Sebastian Hadyan, M.SC, FINEM

Pernah merasa berat badan sudah kembali seperti sebelum hamil, pakaian lama sudah muat lagi, tapi bentuk tubuh terlihat kurang kencang atau perut tetap buncit? Kondisi ini sangat umum dialami ibu pasca melahirkan dan disebut skinny fat, kondisi ketika tubuh memiliki massa lemak yang lebih tinggi daripada massa otot, meski angka di timbangan terlihat normal.
Banyak ibu merasa frustrasi karena meski berat badan sudah turun, tubuh belum terasa seperti dulu. Perut masih tampak menonjol, lengan kurang kencang, dan tubuh terasa “lembek”. Salah satu area yang paling sering dikeluhkan adalah bagian perut bawah, yang kerap disebut mommy pouch, lipatan atau tonjolan lembut di perut yang muncul akibat perubahan otot dan jaringan selama kehamilan.
Daftar Isi
Mengapa Skinny Fat Sering Terjadi Setelah Melahirkan?
1.1. Peningkatan Visceral Fat akibat Pola Makan Tidak Teratur
Cara Mengatasi Skinny Fat Setelah Melahirkan
3.1. Mulai Latihan Beban Secara Bertahap
3.2. Terapi Pendukung: Akupuntur untuk Keseimbangan Tubuh
3.3. Konsumsi Makanan yang Tepat
3.4. Three Layers: Solusi Komprehensif untuk Post Partum Mom di SAÉ Clinique
Mengapa Skinny Fat Sering Terjadi Setelah Melahirkan?
Kehamilan dan proses melahirkan membawa perubahan besar pada tubuh, terutama dari segi komposisi tubuh. Beberapa faktor yang membuat ibu pasca melahirkan rentan mengalami skinny fat antara lain:
Peningkatan Visceral Fat akibat Pola Makan Tidak Teratur

Skinny fat pada ibu pasca melahirkan sering berkaitan dengan meningkatnya visceral fat, yaitu lemak di dalam rongga perut yang mengelilingi organ vital dan bersifat aktif secara metabolik. Kondisi ini kerap diperparah oleh pola makan yang tidak teratur, kurang tidur, serta craving berlebihan terhadap makanan manis dan karbohidrat sederhana sebagai bentuk “reward” instan di tengah kelelahan merawat bayi. Pola ini membuat tubuh lebih mudah menumpuk lemak, terutama di area perut, meski berat badan terlihat normal, dan berisiko mengganggu kesehatan metabolik dalam jangka panjang.
Perubahan Hormon Pasca Melahirkan

Setelah melahirkan, tubuh mengalami perubahan hormonal drastis. Hormon seperti estrogen, progesteron, dan kortisol mengalami fluktuasi yang dapat memengaruhi distribusi lemak tubuh dan kemampuan membangun massa otot. Ketidakseimbangan hormon stres seperti kortisol meningkat karena kurang tidur dan stres mengurus bayi. Hal ini dapat memicu penumpukan lemak di area perut sekaligus menghambat pembentukan otot.
Fokus Hanya pada Penurunan Berat Badan

Banyak ibu yang hanya fokus menurunkan angka di timbangan tanpa memperhatikan komposisi tubuh. Diet ketat atau kardio berlebihan tanpa latihan kekuatan justru dapat membuat tubuh kehilangan massa otot, sehingga metabolisme melambat dan lemak lebih mudah menumpuk kembali.
Dampak Negatif Skinny Fat pada Ibu Pasca Melahirkan
Selain berdampak pada penampilan dan kepercayaan diri, skinny fat juga perlu diperhatikan dari sisi kesehatan. Peningkatan visceral fat dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan kolesterol. Kondisi yang perlu diwaspadai terutama bagi ibu yang ingin tetap sehat untuk keluarga.
Cara Mengatasi Skinny Fat Setelah Melahirkan
Mengatasi skinny fat bukan hanya dengan menurunkan angka di timbangan, tetapi dengan memperbaiki komposisi tubuh: meningkatkan massa otot, menurunkan kadar lemak, dan mengencangkan kulit yang kendur pasca melahirkan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Mulai Latihan Beban Secara Bertahap
Latihan beban atau resistance training adalah kunci untuk membangun kembali massa otot. Aktivitas ini membantu meningkatkan metabolisme, membakar lemak, dan membentuk tubuh lebih kencang. Untuk ibu pasca melahirkan, dapat dimulai secara bertahap dengan latihan ringan seperti bodyweight exercises (squat, plank, push-up) atau latihan dengan resistance band.
Untuk ibu dengan keterbatasan waktu, ada opsi tambahan menggunakan CM Slim—teknologi stimulasi elektromagnetik yang mampu memicu kontraksi otot setara 20,000 kali sit-up atau squat dalam durasi 30 menit. CM Slim sangat efektif sebagai pendukung latihan beban karena membantu membangun otot lebih cepat, meningkatkan kekuatan inti, sekaligus mengurangi lemak di area yang ditargetkan.
Terapi Pendukung: Akupuntur untuk Keseimbangan Tubuh
Akupuntur dapat menjadi terapi pendukung yang sangat bermanfaat bagi ibu pasca melahirkan. Akupuntur membantu menyeimbangkan energi tubuh, meningkatkan sirkulasi, dan mengoptimalkan metabolisme. Selain itu, akupuntur juga membantu mengurangi craving, menurunkan stres emosional, dan memperbaiki kualitas tidur.
Di SAÉ Clinique, akupuntur medis dilakukan oleh tenaga profesional sebagai bagian dari pendekatan holistik untuk mendukung pemulihan tubuh pasca melahirkan, sehingga hasil perawatan dapat lebih optimal dan berkelanjutan.
Konsumsi Makanan yang Tepat
Pola makan yang tepat sangat penting untuk membangun otot dan mengurangi lemak. Pastikan asupan harianmu mengandung:
Protein yang cukup untuk pemulihan dan pembentukan otot (daging tanpa lemak, ikan, telur, tempe, tahu)
Karbohidrat kompleks untuk energi berkelanjutan (nasi merah, oat, ubi)
Lemak sehat untuk keseimbangan hormon (alpukat, kacang-kacangan, minyak zaitun)
Sayur dan buah yang kaya serat dan nutrisi
Three Layers: Solusi Komprehensif untuk Post Partum Mom di SAÉ Clinique

Bagi ibu pasca melahirkan yang ingin mengatasi skinny fat dengan cara yang lebih efektif dan menyeluruh, program Three Layers adalah pilihan terbaik. Perawatan ini dirancang khusus untuk menargetkan tiga lapisan utama yang berperan besar dalam kondisi skinny fat: lemak, otot, dan kulit.
Three Layers bekerja pada tiga lapisan utama tubuh:
Lapisan Lemak
Mengurangi penumpukan lemak membandel secara aman dan terkontrol.
Lapisan Otot
Mengaktifkan serta membangun otot lebih cepat dibandingkan latihan biasa.
Lapisan Kulit
Mengencangkan kulit dengan hasil akhir yang lebih firm dan bertahan lama.
Dengan Three Layers, tubuhmu akan terasa lebih fit, kencang, dan sehat dengan komposisi yang lebih seimbang. Konsultasikan kebutuhanmu bersama kami, di SAÉ Clinique, dan temukan perawatan yang paling sesuai untuk hasil terbaik dan berkelanjutan.
References
Britton, K. A., Massaro, J. M., Murabito, J. M., Kreger, B. E., Hoffmann, U., & Fox, C. S. (2013). Body fat distribution, incident cardiovascular disease, cancer, and all-cause mortality. Journal of the American College of Cardiology, 62(10), 921–925.
Epel, E. S., McEwen, B., Seeman, T., Matthews, K., Castellazzo, G., Brownell, K. D., Bell, J., & Ickovics, J. R. (2000). Stress and body shape: Stress-induced cortisol secretion is consistently greater among women with central fat. Psychosomatic Medicine, 62(5), 623–632.
Foulis, S. A., Hughes, J. M., & Friedl, K. E. (2020). New concerns about military recruits with metabolic obesity but normal weight (“skinny fat”). Obesity, 28(2), 223.
Sutedja, G. T., & Setiawan, F. V. (2025). Lemak viseral, bukan lemak biasa: Faktor dominan dalam regulasi oil, water, dan hidrasi kulit pada dokter muda [Visceral fat, not ordinary fat: Dominant factor in the regulation of oil, water, and skin hydration in young doctors]. Jurnal Kesehatan Amanah, 9(2), 58–68.
Wu, X., Zhang, C., Liang, Z., Liang, Y., Li, Y., & Qiu, J. (2024). Exercise combined with a low-calorie diet improves body composition, attenuates muscle mass loss, and regulates appetite in adult women with high body fat percentage but normal BMI. Sports, 12(4), 91.
Zheng, Q., Lin, W., Liu, C. et al. Prevalence and epidemiological determinants of metabolically obese but normal-weight in Chinese population. BMC Public Health 20, 487 (2020).




Komentar