Ptosis Setelah Botox? Tenang, Ada Cara Cepat Atasinya!
- SAÉ Team

- 4 Des 2025
- 4 menit membaca

Artikel telah ditinjau oleh :

Suntik Botox telah menjadi solusi estetika yang menjadi pilihan untuk meremajakan tampilan wajah dan mengatasi tanda-tanda penuaan. Prosedur ini bekerja dengan cara merelaksasi otot-otot pada wajah melalui penghambatan sinyal saraf, sehingga tampilan otot menjadi lebih rileks dan menghasilkan kulit yang lebih halus. Misalnya, rahang yang terlihat terlalu tegas bisa dibuat lebih tirus, kerutan dahi yang dalam jadi jauh lebih samar, sampai garis halus di sekitar mata yang akhirnya tersamarkan.
Daftar Isi
1.1.2. Mengurangi Keringat Berlebih
1.3.1. Kompres dengan Air Hangat
1.3.2. Berhenti Sementara Menggunakan Lensa Kontak
1.3.3. Gunakan Tetes Mata Alpha-Adrenergic Agonist
1.3.4. Hindari Menggosok Area Ptosis
1.3.5. Perawatan dengan Radio-Frequency
1.4. Pentingnya Memilih Klinik dan Tenaga Profesional yang Tepat
Manfaat Terapeutik Botox
Di luar fungsi estetik, Botulinum Toxin juga memiliki peran terapeutik nyata di beberapa kondisi medis. Dengan dosis dan teknik injeksi yang tepat, Botox juga punya berbagai manfaat terapeutik yang sering kali belum banyak orang tahu. Beberapa di antaranya bahkan bisa membantu meredakan keluhan yang muncul akibat aktivitas otot tertentu atau kondisi lain di luar estetika, seperti:
Mengurangi Bruxism

Bruxism adalah istilah medis untuk kebiasaan menggertakkan, mengatupkan, atau menggesekkan gigi yang sering kali tidak disadari. Kebiasaan ini sangat berbahaya terhadap kesehatan gigi, seperti gigi sensitif, permasalahan pada rahang, hingga permasalahan lanjut seperti nyeri kepala saat membuka mulut. Botox bekerja dengan cara merelaksasikan otot sehingga kekuatan gertakan akibat bruxism dapat diminimalisir.
Mengurangi Keringat Berlebih

Botox dapat berfungsi untuk mengurangi keringat berlebih pada area seperti ketiak dan telapak tangan. Cara kerjanya adalah dengan memblokir sinyal saraf yang mengaktifkan kelenjar keringat tersebut.
Mengatasi Migrain

Ketika Botox diinjeksikan ke area kepala dan leher, otot-otot sekitarnya yang menyebabkan migrain dapat direlaksasikan. Hasilnya, dapat membantu mengurangi keparahan dan frekuensi serangan migrain.
Efek Samping dan Ptosis

Selain berbagai manfaatnya, Botox tetap memiliki potensi efek samping apabila prosedurnya tidak dilakukan dengan tepat, baik karena teknik injeksi yang kurang akurat maupun karena tidak dikerjakan oleh tenaga profesional. Efek samping yang dapat muncul antara lain kelemahan otot di area yang tidak diinginkan, sakit kepala, hingga ptosis.
Ptosis akibat Botox adalah kondisi ketika kelopak mata tampak turun setelah penyuntikan. Hal ini terjadi ketika Botox menyebar ke otot levator paltebrae, yaitu otot yang bertugas mengangkat kelopak mata atas, sehingga otot tersebut menjadi melemah. Ptosis dapat terjadi sesaat sesaat setelah tindakan injeksi, dan dapat bertahan selama 2-3 bulan tanpa penanganan lebih lanjut.
Cara Mengatasi Ptosis
Meski demikian, tidak perlu khawatir. Efek ptosis akan hilang seiring meredanya efek Botox di area tersebut. Ptosis sendiri tidak membahayakan, hanya membuat tampilan kelopak mata terlihat lebih turun sementara waktu.
Meski begitu, ada beberapa cara yang dapat membantu mempercepat meredanya ptosis, seperti:
Kompres dengan Air Hangat
Mengompres area yang mengalami Ptosis dengan air hangat dapat meningkatkan aliran darah lokal sehingga bisa membantu percepatan metabolisme toksin. Disarankan untuk mengompres sebanyak 1-2 kali sehari selama 5-10 menit.
Berhenti Sementara Menggunakan Lensa Kontak
Penggunaan lensa kontak yang terlalu sering dapat membuat kita berulang kali menarik atau mengangkat kelopak mata. Gerakan berulang ini dapat memperparah ptosis, sehingga sebaiknya hentikan pemakaian lensa kontak sementara waktu.
Gunakan Tetes Mata Alpha-Adrenergic Agonist
Obat tetes ini bekerja dengan menyebabkan vasokonstriksi pada pembuluh darah kecil di area aplikasi, yang dapat membantu mengangkat kelopak mata sedikit dan memberikan perbaikan sementara pada ptosis.
Hindari Menggosok Area Ptosis
Memijat atau menggosok bagian kelopak yang mengalami ptosis dapat memperburuk kondisi. Tindakan ini berisiko mendorong toksin menyebar lebih luas, sehingga disarankan untuk benar-benar menghindari kontak atau tekanan berlebih pada area tersebut.
Perawatan dengan Radio-Frequency
Dengan teknologi panas yang dihasilkan dari treatment Radio-frequency akan mempercepat terurainya protein Botunilum Toxin. Sehingga efek ptosis akan cepat menghilang.
Pentingnya Memilih Klinik dan Tenaga Profesional yang Tepat
Seperti yang telah dijelaskan, ptosis dan efek samping lainnya umumnya terjadi bukan karena Botox itu sendiri yang berbahaya, melainkan karena teknik injeksi yang kurang tepat atau prosedur yang tidak dilakukan oleh tenaga ahli berpengalaman.
Oleh karena itu, memilih klinik estetika yang kredibel dan ditangani oleh dokter profesional menjadi langkah paling penting sebelum menjalani prosedur Botox. Klinik yang baik tidak hanya memastikan hasil yang optimal, tetapi juga meminimalkan risiko komplikasi yang tidak diinginkan.
Konsultasikan Kebutuhan Estetikamu di SAÉ Clinique
Di SAÉ Clinique, setiap prosedur estetika ditangani langsung oleh dokter berpengalaman yang memahami anatomi wajah secara mendalam. Sebelum tindakan, kamu akan menjalani sesi konsultasi untuk memastikan treatment yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisimu.
Dengan pendekatan yang mengutamakan keamanan dan hasil natural, SAÉ Clinique berkomitmen memberikan pengalaman estetika yang nyaman dan hasil yang memuaskan, tanpa perlu khawatir dengan efek samping yang tidak diinginkan.
References
Alotaibi, G. F., Alsukait, S. F., Alsalman, H. H., & Turkmani, M. G. (2022). Eyelid ptosis following botulinum toxin injection treated with brimonidine 0.33% topical gel. JAAD Case Reports, 22, 96–98.
Dodick, D. W., Turkel, C. C., DeGryse, R. E., Aurora, S. K., Silberstein, S. D., Lipton, R. B., Diener, H.-C., & Brin, M. F., on behalf of the PREEMPT Chronic Migraine Study Group. (2010). OnabotulinumtoxinA for treatment of chronic migraine: Pooled results from the double-blind, randomized, placebo-controlled phases of the PREEMPT clinical program. Headache, 50(6), 921–936.
Nawrocki, S., & Cha, J. (2020). Botulinum toxin: Pharmacology and injectable administration for the treatment of primary hyperhidrosis. Journal of the American Academy of Dermatology. Advance online publication.
Rashaan, R., & Arkoumanis, P. T. (2023). The efficacy of botulinum toxin A in treating palmar hyperhidrosis – a literature review. Maedica: A Journal of Clinical Medicine, 18(4), 712–717.




Komentar