Mengatasi Permasalahan Kelelahan Saat Berpuasa
- SAÉ Team

- 25 Feb
- 2 menit membaca

Artikel telah ditinjau oleh :
dr. Sebastian Hadyan, M.Sc, FINEM

Ramadhan membawa perubahan besar pada metabolisme tubuh, mulai dari pola makan hingga waktu istirahat. Perubahan ini sering kali berdampak pada tingkat energi harian, yang menjadi lebih mudah menurun selama masa puasa.
Seperti yang dipahami, energi tubuh tidak hanya bergantung pada asupan makanan, tetapi juga pada kemampuan sel dalam memproduksi energi secara efisien, karena proses ini sangat bergantung pada fungsi mitokondria sebagai pusat metabolisme sel.
Saat tubuh mengalami perubahan pola nutrisi dan waktu makan, efisiensi produksi energi di tingkat sel dapat ikut terpengaruh, sehingga tubuh lebih mudah merasa lelah, lesu, dan kurang bertenaga selama Ramadhan.
Mengapa Energi Mudah Menurun Saat Puasa?
Penurunan energi bukan hanya soal kurang makan. Ada beberapa faktor biologis yang berperan selama Ramadhan:
Adaptasi Metabolisme
Perubahan jadwal makan membuat tubuh harus menyesuaikan cara menghasilkan energi, karena metabolisme sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi serta ritme biologis.
Stres Oksidatif
Selama proses adaptasi, tubuh dapat mengalami peningkatan stres oksidatif yang memengaruhi fungsi sel, termasuk mengganggu kerja mitokondria dalam memproduksi energi.
Efisiensi Mitokondria
Mitokondria berperan sebagai “pembangkit energi” tubuh, sehingga penurunan fungsinya dapat berkaitan dengan munculnya kelelahan dan menurunnya performa fisik.
Lebih dari Sekadar Mengatasi Kelelahan

Menambah energi bukan hanya soal konsumsi nutrisi tambahan. Pendekatan yang lebih relevan adalah mendukung produksi energi dari tingkat sel.
Di sinilah rangkaian MitoNad hadir sebagai solusi yang menargetkan fungsi mitokondria.
Diperkenalkan oleh SAÉ Clinique, MitoNad dirancang untuk membantu mendukung metabolisme energi tubuh secara lebih optimal.
Bagaimana Rangkaian MitoNad Bekerja?
Rangkaian MitoNad membantu mendukung fungsi mitokondria, produksi energi sel, serta perlindungan terhadap stres oksidatif, sehingga tubuh tidak hanya terasa lebih bertenaga, tetapi juga lebih mampu menjaga stamina secara berkelanjutan, karena energi yang stabil berasal dari sel yang mampu memproduksi energi secara optimal.
Ramadhan: Waktu yang Tepat untuk Menjaga Energi dari Dalam
Ramadhan dapat menjadi momen bagi tubuh untuk beradaptasi sekaligus memperkuat efisiensi energi. Dengan pendekatan yang tepat, tubuh tidak hanya terhindar dari rasa lelah selama puasa, tetapi juga dapat tetap terasa ringan dan bertenaga.
Sebagai klinik yang berfokus pada pendekatan longevity melalui dukungan kesehatan mitokondria, SAÉ Clinique percaya bahwa energi yang berkelanjutan dimulai dari fungsi sel yang optimal.
Di momen ini, memilih dukungan yang membantu produksi energi dari dalam dapat menjadi langkah awal, seperti rangkaian MitoNad only at SAÉ Clinique untuk menemani tubuh tetap optimal sepanjang Ramadhan.
References
Filler, K., Lyon, D., Bennett, J., McCain, N., Elswick, R., Lukkahatai, N., & Saligan, L. N. (2014). Association of mitochondrial dysfunction and fatigue: A review of the literature. BBA Clinical, 1, 12–23.
Nunnari, J., & Suomalainen, A. (2012). Mitochondria: In sickness and in health. Cell, 148(6), 1145–1159.
Muoio, D. M. (2014). Metabolic inflexibility: When mitochondrial indecision leads to metabolic gridlock. Cell, 159(6), 1253–1262.
Pizzino, G., Irrera, N., Cucinotta, M., Pallio, G., Mannino, F., Arcoraci, V., Squadrito, F., Altavilla, D., & Bitto, A. (2017). Oxidative stress: Harms and benefits for human health. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2017, Article 8416763.




Komentar