Burnout karena Capek Kerja, Tapi Healing Rasanya Kejauhan? Kenalan sama ExoMind Dulu Yuk!

Artikel telah ditinjau oleh :
dr. Sebastian Hadyan, M.Sc, FINEM

Burnout karena kerjaan yang menumpuk itu memang nggak bisa dihindari. Kadang kita pengen liburan, tapi effort-nya lumayan banyak, mulai dari kumpulin budget, susun itinerary, dan lain-lain. Belum lagi kalau destinasinya favorit banyak orang, antreannya pasti panjang banget dan bikin waktu terbuang.
Udah Healing, Kok Tetap Capek?
Tapi pernah nggak sih, udah liburan, ambil cuti, eh nggak lama setelahnya burnout-nya balik lagi? Bisa jadi itu tandanya otak kita udah kecapekan banget. Pada akhirnya, sekadar healing trip atau me time aja terasa nggak cukup kalau otak kita udah terlalu lelah.
Hal ini sejalan dengan sebuah studi yang menunjukkan bahwa 27,9% pekerja yang kembali bekerja setelah cuti sakit kembali mengambil cuti sakit dalam 12 bulan berikutnya. Artinya, tanpa dukungan pemulihan yang memadai, risiko kelelahan berulang tetap ada.
Kenapa Otak Bisa Burnout, Bukan Cuma Istirahat

Stres sebenarnya nggak selamanya buruk. Dalam jangka pendek, stres bisa membantu otak untuk beradaptasi. Namun, dalam jangka panjang, stres dapat menimbulkan beban biologis pada tubuh, khususnya pada salah satu bagian otak yang bekerja paling keras saat kita menghadapi tekanan sehari-hari.
Bagian otak tersebut adalah dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), yaitu bagian utama di depan otak manusia yang menangani proses berpikir tingkat tinggi, perencanaan, dan kontrol kognitif.
Saat DLPFC terus-menerus bekerja akibat stres berkepanjangan, dampaknya bisa terasa ke berbagai aspek, seperti sulit fokus, mood gampang naik-turun, dan kontrol diri terasa lebih lemah dari biasanya.
Kenalan dengan ReMind by ExoMind

Nah, ReMind by ExoMind bisa dijadikan "short escape" untuk DLPFC yang kecapekan tadi. Cara kerjanya cukup simpel: teknologi ini memancarkan pulsa magnet lembut yang menyasar langsung ke titik tersebut, membantu meredakan beban kerja yang menumpuk.
Efeknya, ReMind by ExoMind dapat meningkatkan neuroplasticity, kemampuan otak untuk menyesuaikan diri dan membentuk ulang koneksi antar sel sarafnya sebagai respons terhadap pengalaman atau rangsangan yang diterima.
Kayak Apa Sih Sesi Treatment-nya?
Treatment-nya benar-benar nyaman, nggak ada alat-alat mengerikan yang menempel di kepala. Kamu cukup rebahan santai, lalu alatnya akan ditempelkan dengan lembut di bagian kiri depan kepala, tepat di area DLPFC tadi.
Kamu tinggal memejamkan mata dan rebahan selama 30 menit, sambil dengerin musik atau bahkan sampai ketiduran saking nyamannya juga nggak apa-apa. Nggak ada jarum, nggak perlu obat-obatan yang harus diminum atau disuntikkan.
Yang paling enak, selesai sesi kamu bisa langsung lanjut aktivitas seperti biasa. Nggak ada downtime, nggak perlu istirahat khusus atau menghindari sinar matahari kayak treatment kulit tertentu.
Apakah ReMind by ExoMind Aman?
ReMind by ExoMind tergolong aman dan gampang ditoleransi tubuh, tapi bukan berarti bisa langsung dicoba semua orang tanpa evaluasi terlebih dulu. Sebelum sesi pertama, diperlukan konsultasi dengan dokter untuk memastikan treatment ini emang cocok untuk kondisimu.
Beberapa hal yang perlu dibicarakan ke dokter: riwayat kejang atau epilepsi, pernah cedera kepala berat atau punya gangguan saraf tertentu, sampai obat-obatan yang sedang rutin dikonsumsi. Informasikan juga kalau kamu punya implan logam atau alat elektronik di area kepala dan leher, karena bisa memengaruhi keamanan treatment-nya.
Efek samping yang mungkin muncul biasanya ringan dan cuma sementara, kayak sakit kepala, pusing dikit, atau otot wajah kedutan selama sesi berlangsung. Ini wajar dan nggak perlu bikin panik.
ReMind by ExoMind Cocok Untuk Siapa?
ReMind by ExoMind cocok untuk siapa aja yang ngerasa otaknya udah kelelahan. Karena kondisi tiap orang beda-beda, ada yang sekadar butuh pikirannya di-refresh karena kelelahan, ada yang butuh dibantu rebalance karena susah tenang, dan ada juga yang butuh reconnect karena koneksi sarafnya perlu dukungan lebih.
Tapi kamu nggak perlu bingung menentukannya sendiri. Nanti ada asesmen personal dulu bareng dokter, biar stimulasinya bener-bener pas dengan kondisi otakmu.
Semua Itu Valid, Saatnya Perhatikan Kesehatan Otakmu
Overthinking, burnout, susah fokus, atau lelah yang nggak kunjung hilang, semua yang kamu rasain itu valid. Kamu nggak harus nunggu sampai "parah banget" dulu baru boleh cari bantuan buat otak kamu.
Kadang, yang dibutuhkan cuma 30 menit untuk kasih otak kesempatan reset dan balik ke versi terbaiknya.
References
Mateos-Aparicio, P., & Rodríguez-Moreno, A. (2019). The Impact of Studying Brain Plasticity. Frontiers in cellular neuroscience, 13, 66.





Komentar